Pengeringan
Pengeringan
Pengeringan
PENGERINGAN
A.
Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum Satuan Operasi Industri Pangan 4 Acara I Pengeringan
adalah:
1.
suatu bahan.
B.
2.
3.
Tinjauan Pustaka
Tanaman singkong merupakan tanaman tropis yang berasal dari Brazil,
Amerika Selatan. Mula-mula disebarkan ke Afrika, kemudian Madagaskar,
India, Tiongkok dan masuk ke Indonesia. Di indonesia, singkong memiliki
peranan penting sebagai makanan pokok ketiga setelah padi dan jagung.
Peranan singkong menjadi semakin besar berkaitan dengan daya gunanya di
bidang industri, baik industri kecil, menengah, maupun industri besar, tidak
terbatas pada industri dalam negeri tetapi juga di negara lain sebagai komoditas
ekspor andalan (Suprapti, 2005).
Ubi kayu (singkong) merupakan bahan pangan sumber karbohidrat. Ubi
kayu setelah dipanen mengalami kerusakan dalam waktu 48 jam bila tidak
diproses, hal tersebut disebabkan karena adanya aktifitas enzim-enzim yang
berperan dalam merubah komponen-komponen ubi kayu menjadi bentuk yang
lebih sederhana. Ubi kayu berwarna putih dan kuning mempunyai komposisi
yang berbeda terutama pada kandungan protein, karbohidrat, kadar air dan
kalori. Sedangkan zat mineral pada ubi kayu mempunyai kandungan gizi yang
sama untuk setiap warna daging umbi (Yanita, 2008).
Singkong memberikan karbohidrat produksi yang sekitar 40% lebih
tinggi dari beras dan 25% lebih dari jagung, dengan hasil bahwa singkong
adalah sumber termurah dari kalori untuk gizi baik manusia dan makanan
hewan. Sebuah komposisi khas dari akar singkong adalah kelembaban (70%),
pati (24%), serat (2%), protein (1%) dan zat lainnya termasuk mineral (3%).
bertujuan untuk menurunkan kadar air bahan sampai tingkat yang aman untuk
penyimpanan
atau
digunakan
pada
proses
lainnya.
Hampir
seluruh
pemanas udara yang nantinya udara panas dari heater tersebut yang akan
digunakan dalam pengeringan (Napitulu dan Putra, 2012).
Umbi singkong dapat dimanfaatkan dalam beberapa bentuk makanan jadi
atau setengah jadi (intermediate). Pengolahan singkong menjadi tepung dapat
meningkatkan nilai tambah dan kegunaan singkong, serta memperpanjang
masa simpannya. Beberapa produk antara (intermediate) singkong (chips,
tepung, dan pati) merupakan sumber nutrisi untuk manusia dan ternak, serta
bahan baku berbagai macam industri makanan seperti roti dan kerupuk.
Singkong mengandung komponen toksik dalam bentuk glukosa sianogenik,
tetapi kadarnya dapat diturunkan atau dihilangkan melalui beberapa proses
seperti perebusan, perendaman, fermentasi dan pengeringan. Tepung singkong
terbuat dari potongan ubi kayu yang telah kering kemudian dihaluskan. Ratarata kadar air tepung singkong berkisar antara 11,9267% sampai 14,7067%
(Titi et al., 2007).
Ubi kayu harus diolah terlebih dahulu menjadi bentuk lain yang lebih
awet, seperti gaplek, tepung gaplek, tapioka (tepung singkong), tapai,
peuyeum, keripik singkong dan lain-lain. Tepung gaplek merupakan hasil
olahan ubi kayu yang diperolehdari menumbuk atau menggiling gaplek
sehingga diperoleh tepung dengan ukuran maksimum 100 mesh. Dengan
mengolah ubi kayu menjadi tepung gaplek
dengan kadar air sekitar 9,1%, sehingga lebih mudah dalam pengangkutan
dengan
biaya yang lebih murah serta daya simpan yang lebih lama
(Septianingrum, 2008).
C.
Metodologi
1.
Alat
a.
Baskom
b.
Karet gelang
c.
Kapas
d.
Mesin pemotong (slicer)
e.
Pisau
f.
Satu set alat pengering lengkap (cabinet dyer)
g.
Sumber panas (kompor listrik)
h.
Termometer
i.
Timbangan analitik
j.
Timbangan biasa
2.
Bahan
a.
Singkong
3.
Cara Kerja
0,5 kg singkong
Dikupas
Dipotong dadu
Dipotong
dadu+blanching
Dislicing
Dislicing+blanching
Dicuci
Ditiriskan
Ditimbang
Dipilih 5 sampel yang akan digunakan untuk mengetahui laju
pengeringan
Ditata dalam rigen pengeringan
5 sampel uji diberi kode dan diletakkan di tempat yang berbeda
Dikeringkan di dalam cabinet dryer selama 3 jam
Diukur suhu bola kering dan bola basah bahan, RH dan suhu ruang
pengering, suhu bola kering dan bola basah lingkungan, dan berat
sampel uji pada jam ke 0, , 1, 1, 2, 2 , dan 3.
Diakhir pengeringan dilakukan penimbangan sampel uji dan sampel
keseluruhan
D.
Alasan
yang
mendukung
proses
pengeringan
dapat
proses pengeringan ada dua yaitu panas sensibel dan panas laten. Panas
sensibel adalah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikan temperatur
tanpa mengalami perubahan fase, sedangkan panas laten adalah energi panas
yang dibutuhkan untuk merubah fase dari liquid menjadi gas tanpa mengalami
perubahan temperatur (Siamullah et al., 2010). Dalam Pengeringan terjadi
proses penguapan uap air dari bahan ke lingkungan yang merupakan
pertukaran antara panas laten dan panas yang terasa (sensibel). Menurut
Waktu
(Jam)
0
0,5
1
1,5
2,0
2,5
3,0
0
0,5
1
1,5
2,0
2,5
3,0
Tekanan
(atm)
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
RH (%)
62,5
58
45
35
30
30
35
62,5
58
45
35
30
30
35
1
63
56
54
59
52
59
70
63
56
54
59
52
59
70
2
35
34
34
33
29
28
35
35
34
34
33
29
28
35
Suhu (oC)
3
53
48
48
48
47
47
54
53
48
48
48
47
47
54
4
29,3
31,7
34,2
30,2
38,3
39
39,8
29,3
31,7
34,2
30,2
38,3
39
39,8
5
26
26,1
27,8
29,9
30
28,5
32
26
26,1
27,8
29,9
30
28,5
32
15
0
1
16
0,5
1
17
1
1
18
1,5
1
19
2,0
1
20
2,5
1
21
3,0
1
22
0
1
23
0,5
1
24
1
1
25
1,5
1
26
2,0
1
27
2,5
1
28
3,0
1
29
0
1
30
0,5
1
31
1
1
32
1,5
1
33
2,0
1
34
2,5
1
35
3,0
1
Sumber: laporan sementara
Keterangan:
1 : Suhu bola kering lingkungan
2 : Suhu bola basah lingkungan
3 : Suhu ruang pengering
4 : Suhu keluar bahan bola kering
5 : Suhu keluar bahan bola basah
Sumber: Laporan Sementara
62,5
49
42
40
40
30
30
62,5
58
45
45
40
37
35
62,5
60
50
45
30
33
39
63
53
54
60
61
52
59
63
56
54
60
62
53
70
63
54
54
54
59
58
53
35
32
32
33
29
28
35
35
34
34
37
38
28
35
35
34
34
34
33
31
28
53
61
60
52
52
50
60
53
48
48
51
54
49
54
53
48
46
46
47
53
47,5
31,2
33,2
35,5
36,5
37
35,9
37,8
30
35,2
37
37
35,2
38,4
37,2
30
32,2
33,8
31,2
33,4
31
35,1
27,6
28
27,7
30,4
27,6
27,1
29,2
26,2
32
34
33,2
32,6
26,8
30
25,8
28,6
29,7
28,3
26
29,3
28,9
dengan kadar air dalam bahan pangan pada grafik psychroetric charts.
Hubungan tersebut menentukan berapa panas masuk dan keluar yang
setimbang. Selain itu, juga menentukan panas yang hilang dalam proses
pengeringan. Selain neraca panas, juga dibutuhkan neraca massa untuk
mengetahui keseimbangan antara berapa produk yang masuk dengan berapa
yang keluar serta berapa uap air yang dilepaskan dalam proses. Ini berpengaruh
juga pada perubahan fraksi air dalam bahan pangan. Dari tabel 1.1 dapat dilihat
bahwa nilai RH selama pengeringan semakin menurun dari 62,5% di awal
proses menjadi 39% di akhir proses. Hal ini disebabkan adanya pengurangan
kadar air di dalam ruangan pengering yang menguap karena adanya pemanasan
(Sumarno, 2007).
Selain pengamatan RH, pada praktikum dilakukan pengamatan terhadap
suhu pengeringan. Suhu berpengaruh dalam usaha menghasilkan kalor untuk
mengeringkan udara alat pengering dan bahan secara optimal (Napitupulu dan
Yudha, 2007). Pengamatan pertama dilakukan pada suhu bola kering dan suhu
bola basah lingkungan alat pengering dengan menggunakan termometer.
Termometer bola tanpa kain isap yang basah mencatat suhu udara, dalam
hubungan ini termometer tersebut disebut termometer bola kering sedangkan
termometer bola dengan kain isap yang basah mencatat suhu udara disebut
termometer bola basah (Earle, 1969). Hubungannya dalam pengeringan adalah:
pada kelembaban tinggi, penguapan akan berlangsung lamban dan temperatur bola
basah (Twb) nilainya akan sama dengan temperatur bola kering (Tdb). Namun
pada kelembaban rendah sebagian air akan menguap, jadi temperatur bola basah
akan semakin jauh perbedaannya dengan temperatur bola kering (Sumarno, 2007).
Dari tabel 1.1 diketahui nilai suhu bola basah dan bola kering dari
lingkungan alat pengering dan bahan selama 3 jam pengeringan yang diamati tiap
setengah jam. Untuk lingkungan alat pengering, didapatkan suhu bola kering
berturut-turut adalah: 63 oC, 54oC, 52oC, 54oC, 60oC, 61oC dan 53oC sedangkan
untuk suhu bola basahnya berturut-turut adalah: 35 oC, 34oC, 34oC, 32oC, 33oC,
38oC dan 28oC. Dapat dilihat bahwa perbedaan suhu bola basah dan suhu bola
kering alat pengering berbeda jauh yang berarti sesuai teori Sumarno (2007),
Waktu
Pengamatan
(Jam)
0
0,5
1
1,5
2
2,5
3
2
29,5
32
34
29
38,5
39
40
3
29
32
34
30
38
39
40
4
29
31,5
35
31
38
39
39
5
29
31
34
32
38
39
40
2
5,7
4,5
3,8
2,8
2,5
2,4
2,3
3
5,4
4,4
3,8
3
2,6
2,5
2,3
4
5,1
4
3,1
2,3
2,2
2,1
2,1
5
5,8
4,5
3,7
2,8
2,5
2,5
2,4
8
0
30
9
0,5
35
10
1
38
11
1,5
37
12
2
35
13
2,5
41
14
3
39
15
0
30
16
0,5
35
17
1
38
18
1,5
37
19
2
35
20
2,5
41
21
3
39
22
0
30
23
0,5
35
24
1
38
25
1,5
37
26
2
35
27
2,5
41
28
3
39
29
0
30
30
0,5
33
31
1
33,8
32
1,5
31,2
33
2
33,8
34
2,5
31
35
3
32,8
Keterangan:
SBK : Suhu Bola Kering
SBB : Suhu Bola Basah
Sumber: Laporan Sementara
30
35
37
37
35
39
37
30
35
37
37
35
39
37
30
35
37
37
35
39
37
30
32
34
32
33,8
31
33
30
35
38
37
35
38
37
30
35
38
37
35
38
37
30
35
38
37
35
38
37
30
32
33,5
31
33,2
31
33,2
30
35
38
37
35
37
37
30
35
38
37
35
37
37
30
35
36
37
35
37
37
30
32
34
31
33,2
31
32,2
30
34
36
37
35
37
37
30
34
36
37
35
37
37
30
34
36
37
36
37
36
30
32
33,8
31
33
31
33,2
7,1
6,2
5,2
4,4
3,9
3,6
3,4
7,1
6,2
5,2
4,4
3,9
3,6
3,4
7,1
6,2
5,2
4,4
3,9
3,6
3,4
3,8
3,3
3
2,8
2,7
2,6
2,5
7,7
6,8
5,7
4,9
4,5
4,2
3,9
7,7
6,8
5,7
4,9
4,5
4,2
3,9
7,7
6,8
5,7
4,9
4,5
4,2
3,9
4,19
3,6
3,3
3,1
3
3
2,9
7,4
6,6
5,5
4,7
4,2
3,8
3,5
7,4
6,6
5,5
4,7
4,2
3,8
3,5
7,4
6,6
5,5
4,7
4,2
3,8
3,5
3,4
3
2,7
2,5
2,2
2,1
2
7,3
5,9
4,8
4
3,8
3,6
3,4
7,3
5,9
4,8
4
3,8
3,6
3,4
7,3
5,9
4,8
4
3,8
3,6
3,4
4,7
4,3
3,9
3,7
3,4
3,3
3,3
7,7
6,6
5,5
4,5
4,1
3,9
3,7
7,7
6,6
5,5
4,5
4,1
3,9
3,7
7,7
6,6
5,5
4,5
4,1
3,9
3,7
5,1
4,4
4,1
3,9
3,8
3,7
3,6
Pada tabel 1.2 diketahui suhu bola basah dan suhu bola kering bahan
yang dikeringkan yaitu singkong. Dari masing masing data diperoleh 5 data
yang berasal dari 5 sampel singkong yang diletakkan pada bagian berbeda tiap
tray. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah panas yang diberikan oleh
alat pengering terdistribusi ke semua bahan atau tidak. Dari data diatas dapat
dilihat bahwa selisih untung masing-masing suhu bahan tiap setengah jamnya
tidak lebih dari 2oC, hal ini berarti bahwa distribusi panas alat pengering
tersebar merata walaupun perbedaannya tidak signifikan. Denah peletakan
sampel singkong dalam tray pengering adalah berikut ini:
4
5
3
kandungan air pada bahan telah sampai pada kondisi jenuh sehingga
menyebabkan air yang terkandung dalam dalam bahan berubah dari fase cair
menjadi fase uap.
E.
Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan diatas dapat diambil beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
a. Pengeringan merupakan usaha untuk menurunkan kadar air sampai batas
tertentu tujuannya agar reaksi biologis terhenti dan mikrorganisme serta
serangga tidak bisa hidup di dalamnya.
b. Pengeringan singkong dalam waktu 3 jam pada suhu 46-53oC menghasilkan
singkong dengan kadar air 30,89% (sampel) dan 33,52% (bahan).
c. Kelembaban yang sangat rendah didalam ruang pengering akan mempercepat
proses penguapan air.
DAFTAR PUSTAKA
Balya, M, Sony Suwasono dan Djumarti. 2013. Karakteristik Fisik dan
Organoleptik Biji Kopi Arabika Hasil Pengolahan Semi Basah dengan
variasi Jenis Wadah dan Lama Fermentasi (Studi Kasus di Desa Pedati dan
Sukosawah kabupaten Bondowoso). Jurnal Agrointek 7(2): 109-121.
Earle, R.L. 1969. Satuan Operasi untuk Pengolahan Pangan. Bogor: Sastra
Hudaya.
Energi Biomassa Arang Kayu. Politeknik Negeri Semarang: Jurusan Teknik
Mesin.
Ginting M, Minarni, Walfred T, Egi Y. 2013. Alat Pengering Singkong Tenaga
Surya Tipe Kolektor Berpenutup Miring. Disampaikan dalam: Prosiding
Semirata Fmipa Universitas Lampung.
Ginting, Maksi dan Egi Yuliora. 2010. Teknologi Alat Pengering Surya Untuk
Hasil Pertanian Menggunakan Kolektor Berpenutup Miring. Universitas
Riau: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Hutami, Fenty Dianing dan Harijono. 2014. Pengaruh Penggantian Larutan Dan
Konsentrasi NaHCO3 Terhadap Penurunan Kadar Sianida Pada
Pengolahan Tepung Ubi Kayu. Jurnal Pangan dan Agroindustri 2(4): 220230.
Jassin, Ernawati. 2010. Kajian Eksperimental Nilai Konduktivitas Thermal Dan
Panas Spesifik Beberapa Jenis Ikan. Universitas Hasanuddin: Teknologi
Pasca Panen.
Kusumayanti H, Widi A Dan Wisnu B. 2011. Inovasi Pembuatan Abon Ikan
Sebagai Salah Satu Teknologi Pengawetan Ikan. Gema Teknologi 16(3).
Napitulu F Dan Putra M. 2012. Perancangan Dan Pengujian Alat Pengering
Kakao Dengan Tipe Cabinet Dryer Untuk Kapasitas 7,5 Kg Per-Siklus.
Jurnal Dinamis 2(10).
Rosa, Yazmendra , Menhendry dan Zulhendri. 2008. Kaji Eksperimental
Penyimpan Panas Sementara Dari Hasil Udara Panas Keluaran Kolektor
Energi Surya. Jurnal Poli Rekayasa 4(1).
Saptoningsih dan Ajat J. 2012. Membuat Olahan Buah. Jakarta: PT Agromedia
Pustaka.
Septianingrum, E. 2008. Perkiraan Umur Simpan Tepung Gaplek Yang Dikemas
Dalam Berbagai Kemasan Plastik Berdasarkan Kurva Isoterm Sorpsi
Lembab. Universitas Sebelas Maret Surakarta: Fakultas Pertanian.
Siamullah, M. Windanarko, Mega Nur Sasongko dan Lilis Yuliati. 2010.
Pengaruh Diameter Droplet Air Terhadap Proses Pemadaman Api Tipe
Premixed Flame. Universitas Brawijaya: Jurusan Teknik Mesin Fakultas
Teknik.
Sumarno, Gatot. 2007. Studi Experimental Alat Pengering Krupuk Udang Bentuk
Limas Kapasitas 25 Kg Per Proses Dengan Menggunakan Energi Surya
Dan
Suprapti, Lies. 2005. Tepung Tapioka. Yogyakarta: Kanisius.